Selasa, 19 Maret 2013

Napas bangsa semangat pemuda

  jangan ada lagi saling menghujat, saudari
  Dari napas hati tersuci
  Untuk kembai membangun jati diri 

Napas-napas pancasila yang luhur 
Adalah hembusan cita-cita Mulya nan Agung 
Panorama Nusantara 
Adalah surga kemakmuran kita 
Sepanjang sabang sampai merauke 
Berdaulat. Berdiri tegak, gagah wajah Bangsa 
Akankah pudar seiring datang peradaban baru 
Nusantaraku yang elok di Negaraku 
Garudaku yang gagah perkasa 
Semangat leluhurku masihkah tersisa? sandiwara-sandiwara penerusmu 
Akankah selalu membabi buta, lebih tak bermanusiawi
Semangat pendiri Bangsaku
Engkau tumpahkan pengorbanan jiwa-raga
Menghapusakan penderitaan pisik yang nyata 
Awal dari penyiksaan baru 
Negaraku, nelangsa Rakyatmu di peras sepanjang masa 
Gerbang kemerdekaan memang terbuka 
Alih-alih merdeka tapi, masih tetap sama 
Tunas-tunas penerus kelanggengan Bangsa 
Pemuda adalah tumpuan terdepan 
Enyahkan ha-ha negatif yang (mencela) membudaya 
Mulyakan Bangsa Indonesia 
Untuk membumingkan Pancasila
Damai, tentram, sejahtra di bumi pertiwi tercinta 
Adalah mutlak Hak kita

Kamis, 17 Januari 2013

Kan indah pada waktunya

Kuterima apa yang kulalui 
Akhirnya kudapat merasakan rasa
Meski masih tersisa
Ku mampu mengendalikannya 
Indahnya dua dunia yang kucari 
Masih jauh tuk kuselami 
Mestinya kusadar diri 
Oh, betapa besarnya rasaku 
Duluku tak kuasa mendamba 
Karena terlalu menginginkannya 
Kini kan kujalani dan kucoba 
Agar tak sepotong hati 
Rona itu tak harus padam 
Raksasa di balik jiwaku masih utuh 
Namun ku coba cerna apa yang ada 
Inilah kehidupan yang kujalani 
Yang harus kutitih dengan tumbah juang 
Kuberserah pasrah 
Karena semua ini kan indah pada waktunya

Sabtu, 12 Januari 2013

malam-malam

Aku berharap dimalam sesunyi ini
Aku tidak teringat padamu kembali
Karena aku lelah menanti yang tak pasti
Aku tak pernah berhasil mendepak ilusi
Meski aku tengah berkeras hati
Melupakan jejak-jejakmu di sanubari
Aku ingin kau tidak datang dalam mimpi
Karena kau kejam telah memulai semjua ini
Aku merana dalam dekapan kehampaan

Galau


Aku ingin sembuh Dari keserakahan yang utuh Aku tak ingin mengaku Kalau Sebenarnya aku begitu Aku trkubur oleh rindu Yang menjelma gundah Sekali lagi aku benci mengakuinya Kalau pusat rasaku begitu adanya Hujan air mata Bekunya aroma itu Tak pernah puas menyiksa Dialah wujud galau Kenyataan jahatnya Di rasa tak terkira Jangan asal berkata Kalau tak pernah bersenggama Dia adalah jinnya cinta Punya 1001 cara Untuk mengunci jiwa