Minggu, 24 April 2011

ketika

Ketika lirik-lirik cinta tak tercipta
Ketika tak ada gelora tuk menggoda
Ketika kutersesat tanpa cahaya
Ketika nyanyian indah seolah sirna
Ketika lelah menghitung hari terasa
Ketika nyata kudapati arti kecewa
Ketika malam-malamku tanpa nyawa
Ketika pekat menyelimuti penuh hampa
Ketika lenyap sayup-sayup suara
Ketika tak ada nada-nada surga
Ketika, ketika, ketika itu tiba

sinar

Kukira  pertahanan  ini  kokon  nan  kuat 
Tapi, ternyata  aku  salah  total  
Kupikir  aku  tidak  akan  terjerumus
Pada  rasa  yang  sesungguhnya  tidak  boleh  kumiliki 
Ini  tak  pantas  bukan  tempatku  untuk  
membuka  hati 
Aku  benci  dan  merasa  hina  
Atas  apa  yang  mengalir  di dalam  dada 
Benar, aku  tidak  begitu  dalam 
Sampai  berkeinginan  memilikinya  
Meski  begitu , aku  merasa  kotor seperti  sampah 
Aku  hanya  debu  yang  jauh  dari  berarti  
Sedangkan  dia  sesosok  yang  berupa  keharuman 
Dimatanya  terdapat  impian  keindahan  
Dia  memiliki  senyum  berselimut  madu 
Aku  mengutuk  diriku  sendiri 
Karena  telah  menyelipkan  sinar  itu

Kamis, 07 April 2011

gelora

Tak ada gelora 
Hanya ada gelombang 

Jiwa yang terus mengumbara 
Menanti tanpa penghujung 

Seperti nikmatnya angin menyapa 
Diantara duka yang menggunung 

Rasa perih tanpa kata-kata 
Mengoyak menggunjing 

Diri ini lelah dalam hampa 
Yang mendera menggulung-gulung 

cepat,lekas dan yakinkanku

cepat,cepat,cepat cepatlah datang 
Hari dimana kemenangan besar 
Kemerdekaan atas koloni ilusi 
Hapuslah semua beban derita 
Munculah kekayaan diri 
Menggununglah sebuah pucuk juang 


Lekas, lekas, lekaslah tiba 
Akhir dari perjuangan panjang 
Pecahlah pertempuran suran 
Impian memetik satu titik tiba 
Tiada lagi hari-hari untuk mengiba 


Pasti; pasti, pastilah terjadi 
Jika tiada mengenal henti 
Untuk terus meyakinkan diri 
Percayalah seutuhnya pada keteguhan 
Niscaya lautan madukan menghampar 


Yakin, yakin, yakinlah pada sabar 
Jika ia selalu bersama dan mengakar 
Tiada kata ''takan mungkin terjadi 
Karna badai pasti dapat di lalui 
Sujudlah ....sukurlah....teruskanlah

IBUNDA

IBU kau cahayaku dalam kegelapan 
Kau kekuatanku dalam kehidupan 
Aku sungguh bergantung 
Pada kehangatan - kehangatan 
Dari segala kemurnian 
Yang telah engkau limpahkan 

Ibunda tersayang 

Ibu penuh luapan cinta 
Cintamu terasa menelusuk jiwa 
Tanpamu dunia gelap gulita 
Tanpamu kesukaran amat sangat terasa 
Tanpamu indahnya dunia tak tercipta 
Tanpamu takan ada surga 
Ibu kau sama berarti seperti sang pelita 
Yang hanya memberi tak terkira 
 

IBUNDA

Engkau terlalu berharga 
Senyummu laksana lukisan di surga 
Tunduk kepatuhanmu pada sang pencipta 
Membuatmu semakin mulya 
Tiada dapat yang menggantikan cinta 
Atau yang lebih patut tuk membalas jasa 
Jiwamu terlalu sempurna 
Menggeserkan keindahan mutiara 
Engkau adalah harta 
Berlapis tahta karunia 
Yang maha luarbiasa 
Maha luas tiada tara 
Kusadari jasamu begitu nyata 
Bahkan....., ternyata
Selimutmu mengakar di dasar jiwa 
Aku terlalu hina 
Untuk melantunkan bait-bait kata
                

IBUNDA

Aku cinta ibunda 
Berlapis-lapis sayang tak terhingga 
Bersamanya ada ketenangan 
Yang tidak tergambarkan 

Di sisinya selalu ada pancaran 
Sinar kasih, tulus dan sayang 
Memandangnya dengan penuh cunta 
Ada lautan kata yang membendung 

Cintanya berselimut sutra mutiara 
Ketulusannya sunggyh,sungguh terasa 
Sinarnya pencaran cahaya  dua dunia
Bunda terlalu berharga 

Dekapannya selalu terasa 
Kehangatanya mendasar di dada 
Cintanya yang besar tak pernah berubah 
Kelembutanya terlalu megah 

Sejak mengandung hingga melahirkan 
Hingga tumbuh menjadi dewasa 
IBUNDA,IBUNDA,IBUNDA 
Beliau selalu ada di sisi kita

IBUNDA

Sekian lama aku tersesat 
Kenapa aku terlambat
Terlambat menyadari dalam cintamu 
Menyadari kau urat nadiku 
Menyadari kau udara yang ku hirup
Menyadari perasan perih tulusmu
Kau telah menentang segala bahaya 
Bahkan maut sekalipun
Kau menyalurkan napas 
Saat kau mempertaruhkan nyawa di ujung kematian 
Saat kau merasakan daging terkoyak 
Urat yang bagai terputus-putus 
Dan darah yang mendidih mengalir 
 
Aku lupa.....Aku lalai
Akan jeritan dan rintihanmu 
Akan lengkingan sakitmu 
Akan derasnya keringat panas dinginmu 
Akan kelelahan yang mendera tubuhmu 
Aku lupa .....segalanya 
Aku terlambat menyadari bakti yang sesungguhnya
Seberapa pun banyak mutiara yang akan kupersembahkan 
Takan mampu menggantikan cinta dan pengorbananmu