Kamis, 17 Januari 2013

Kan indah pada waktunya

Kuterima apa yang kulalui 
Akhirnya kudapat merasakan rasa
Meski masih tersisa
Ku mampu mengendalikannya 
Indahnya dua dunia yang kucari 
Masih jauh tuk kuselami 
Mestinya kusadar diri 
Oh, betapa besarnya rasaku 
Duluku tak kuasa mendamba 
Karena terlalu menginginkannya 
Kini kan kujalani dan kucoba 
Agar tak sepotong hati 
Rona itu tak harus padam 
Raksasa di balik jiwaku masih utuh 
Namun ku coba cerna apa yang ada 
Inilah kehidupan yang kujalani 
Yang harus kutitih dengan tumbah juang 
Kuberserah pasrah 
Karena semua ini kan indah pada waktunya

Sabtu, 12 Januari 2013

malam-malam

Aku berharap dimalam sesunyi ini
Aku tidak teringat padamu kembali
Karena aku lelah menanti yang tak pasti
Aku tak pernah berhasil mendepak ilusi
Meski aku tengah berkeras hati
Melupakan jejak-jejakmu di sanubari
Aku ingin kau tidak datang dalam mimpi
Karena kau kejam telah memulai semjua ini
Aku merana dalam dekapan kehampaan

Galau


Aku ingin sembuh Dari keserakahan yang utuh Aku tak ingin mengaku Kalau Sebenarnya aku begitu Aku trkubur oleh rindu Yang menjelma gundah Sekali lagi aku benci mengakuinya Kalau pusat rasaku begitu adanya Hujan air mata Bekunya aroma itu Tak pernah puas menyiksa Dialah wujud galau Kenyataan jahatnya Di rasa tak terkira Jangan asal berkata Kalau tak pernah bersenggama Dia adalah jinnya cinta Punya 1001 cara Untuk mengunci jiwa

Rindu

Aku pernah begitu terperdaya olehnya
Saat aku mendapati sesuatu 
Telah lenyap begitu saja 
Waktu seolah mempermainakan 
Rasa sakit itu begitu menakjubkan 
Mengoyak lalu merabut paksa 
Dalam waktu-waktu tertentu
Aku terpuruk bersimbah
Dalam kekosongan yang panjang 
Dalam kegetiran nan mengilukan 
Saat aku menyadari sepi 
Jiwaku dikalungi kesesakan 
Dadaku seolah tak tahan 
Ia berontak hingga meledak 
Aku sungguh di permainkan 
Ketiadaan tak berunding ingin menetap
Dalam hidupku, dalam hari-hariku
Dia ingin aku tenggelam 
Kedalam kegelapan yang dalam 
Apa ini hanya sebuah kenistaan 
Pernahkah mereka memaknai ini 
Aku sungguh mencintai 
Aku bersukur bisa memaknai 
Karunia yang menghangatkan hati
Satu hal yang dapat kusadari
Hanya Tuhan, hanya Dia yang sejati
Sang pembalas rindu nan Abadi

Rabu, 09 Januari 2013

.Lagu itu


Harusnya tak kudengar lagi lagu itu Semestinya aku tak dahaga Bahwa cerita hidupku pernah bersimponi Namun jiwaku terkeruk-keruk kesesatan Sampai detik ini, meski telah lama berlalu Musim-musim pahit telah kulalui Aku tersungkur seolah sengaja Menyelami luka-luka bergenang air mata Malam-malam yanf jadi nyat menyiksa Harapanku tenggelam bersama lautan nestapa Menyisakan sesak di rongga dada Ingin kutepis agar aku bisa Lepas dari derita hampa Tanpa lagu itu, aku akan selalau dahaga

Hilangnya senyummu


Cinta hadir dihati ini begitu adanya Rasa tulus nyatanya jadi sia-sia Sebentar saja kumengenalmu Kebahagiaan itu adalah kebutuhanku Cinta yang satu lagi mengapa kian menyiksa Wujudmu masih menjelma di dada Namun takdir tak menuliskan kita bersama Perbedaan tergambar di mata jadi tak cinta Tapi, aku sungguh terluka Seolah kenangan bersamamu duka Hatiku kini terbelah dua Karena benar dirimu masih tersisa Coba kau bisa pahami Aku hanya ingin kau tau Apakah dirimu menghargai apa inginku Batinku menjerit-jerit tak kuasa Jangan berkata-kata tentang air mata lagi Kesesakan yang kurasa ialah Neraka cinta Wahai yang pernah kupuja Adakah rasa sakit dari apa yang melanda Karena diriku tak sanggup tanpamu Duniaku tergunjang semu Aroma hidupku antah berantah kelabu Membayangkan hilanh, hilangnya senyummu

Saranghae


Kata itu begitu tajam Saat mendengarnya Ada gema yang merayu di dalam dada Romaku tersedot kepusaran alam nalar Rasanya cukup kuat Bergetar dengan hebat Selalu aku di bawa kembali Kedetik yang kini ingin kudatangi Sentuhan tak sampai Membuatku semakin penasaran Sepertinya aroma yang tak mampu kuhirup Sangat memabukan Dalam rentan yang lama Aku masih merasa Betapa luar biasa kata itu Aku tergoncang badai Bersama samudra tak kasat mata Hingga jiwaku hampir terkeruk nafsu Yang mesti kubelenggu Saranghae, kata itu Masuk kerenung hati mendalam Memaksa dan mempermainkan nurani Membangunkan satu mimpi Tanpa kejelasan bernarasi